Cerpen Karena Cinta Punya Waktu by Mentari Rizki

Hai Guys, long time no see!! Kali ini Mentari bakal nulis cerpen nih. Langsung aja yaks, ini sebenernya cerpen hasil recycle dari cerpen yang pernah Mentari buat. Oke cuussss...


Karena Cinta Punya Waktu

  Perlahan tetes air hujan jatuh membasahi bumi, daun-daun diluar sana pun basah, gemercik air hujan terdengar jelas ditelinga, dan hawa dingin pun mulai menusuk tulang. Langit begitu gelap, sama seperti hatiku saat ini, mungkin memang sedang bersahabat denganku. Aku bangkit dari kasurku, lalu berjalan ke arah jendela kamarku, yang berhiaskan tirai dengan miniature Eiffel tower. Perlahan tanganku mulai mencoba menyentuh jendela yang saat ini mulai berembun dan basah. Pandanganku kosong menatap langit malam yang tak bersinar. Kini pandanganku teralihkan pada sebingkai foto dan setangkai bunga mawar yang berada di meja belajarku. Aku pun mulai mengambilnya. Ku usap kaca dan bingkai foto itu, ku pandangi gambar dirinya, dan ku cium mawar itu, rasa rinduku pun kian terasa. Tetes demi tetes air mataku jatuh membasahi pipi, perlahan aku mencoba untuk tersenyum dan mengingat kenangan itu, sekitar 5 tahun yang lalu.

>>>>><<<<<< 

  Namaku Raina, salah satu siswi SMA di Tangerang. Tentu saja aku mempunyai seorang kekasih, dia teman sekelasku, namanya Nicko. Dan aku mempunyai dua orang sahabat, Nadia dan Keenan. Sudah sekitar sepuluh bulan aku menjalin hubungan dengan Nicko. Namun, semakin lama cinta kami semakin memudar. Kali ini aku duduk di salah satu bangu di kantin sekolah. Tidak lama, seorang anak laki-laki mendekatiku, dia adalah Nicko.
  “Raina..” ucap Nicko yang terlihat gugup.
  “Kenapa?” tanyaku
  “Maaf, akhir-akhir ini aku udah jarang ngabarin kamu, aku jarang merhatiin kamu, pokoknya aku udah mulai menjauh.” Jelas Nicko.
  “Terus?” tanyaku.
  “Aku ngga enak ngomongnya.” Jawab Nicko.
  “Udah ngomong aja!” ucapku sedikit menggertak.
  “Kita putus.” Ucap Nicko lirih.
  “Sebelum kamu bilang putus, aku udah mulai mencoba berjalan mundur kok. Aku capek, emang lebih baik kita putus.” Jelasku.
  “Kamu baik-baik aja kan?” tanya Nicko.
  “Kamu lihat kan? Aku baik-bak aja.” Jawabku seraya tersenyum lebar.
  Nicko hanya tersenyum, lalu berlari kecil meninggalkanku. Aku langsung menutupi wajahku dengan kedua telapak tanganku, aku pun tak kuasa membendung air mataku. Jujur, hatiku sakit. Tak lama, seorang anak laki-laki menghampiriku, lalu memberikanku sehelai tissue. Aku berhenti menangis lalu menatapnya dan mengambil tissue itu.
  “Udah, jangan ditangisin, mubazir air matanya. Lihat tuh muka kamu, jelek banget! Sekarang kamu berhenti ya nangisnya, habis itu air matanya di usap pakai tissue atau cuci muka aja biar ngga keliatan sembab, oke?! Raina kan cewek yang kuat, anti patah hati. Iya kan? Semangat!!” ucap anak laki-laki itu yang ternyata adalah Keenan.
  “Makasih ya.” Jawabku sambil memaksakan diri untuk tersenyum.
  Keenan hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu pergi.
 
  Keesokan harinya, aku duduk sendiri di bangku taman sekolah, aku memandang tanah dengan tatapan kosong, mengingat kenanganku bersama Nicko. Perlahan, air yang keruh itu menetes dari mataku lalu mengalir di pipiku.
  “Masih galau?” tanya Keenan sambil memberikanku setangkai bunga mawar merah yang ia petik di taman sekolah.
  “Sok tahu kamu!” jawabku sinis.
  “Raina, mulut emang bisa bohong, tapi hati? Gini deh, amggap bunga mawar ini kesedihan kamu, terus kamu cabutin satu-satu kelopaknya sambil kamu sebut nama cowok yang kamu sebel, yang pengin kamu lupain. Coba deh.” Jelas Keenan.
  Aku menerimanya, lalu ku cabut satu per satu kelopaknya sambil menyebut nama Nicko. Hingga akhirnya kelopak dari bunga mawar itu habis.
  “Lega?” tanya Keenan.
  Aku hanya menggelengkan kepalaku.
  “Raina, pelan, perlahan kamu pasti bisa lupain Nicko. Move on emang ngga gampang, butuh waktu. Tapi pada saatnya hati kita udah sembuh, kamu harus bisa cari yang baru, jangan pernah takut buat mencari cinta yang baru. Karena, jika Tuhan mengambil sesuatu dari tanagn kita, bukan berarti Tuhan menghukum kita, tapi Tuhan hanya ingin memberikan yang lebih baik lagi, yang terbaik untuk kita.” Jelas Keenan.
  “Bantu aku untuk melewati semua ini.” pintaku.
  “Janji, aku bakal bantu kamu.” Jawab Keenan.
  “Jangan buat janji kalau pada akhirnya kamu ngga bisa tepatin.” Ucapku.
  “Iya bawel!” jawab Keenan seraya mencubit pipiku.

  Sudah beberapa bulan ini aku mencoba untuk menyembuhkan luka dihatiku. Bersama Keenan, mungkin rasa cinta yang baru akan mucul. Perasaan nyaman, bahagia saat di dekatnya, apakah akan berubah menjadi sebuah rasa sayang dan cinta? Kurasa iya, tapi aku masih bingung terhadap perasaanku sendiri, antara berpindah atau masih tetap pada cinta yang lama.
  Pagi ini, langit tak secerah biasanya. Awan mendung menghiasi langit pagi ini, matahari pun tak nampak. Dan perlahan tetes demi tetes air hujan berjatuhan, dan semakin deras. Aku asyik memainkan ponselku di bangku pojok kelas. Sesekali aku memandang ke luar jendela untuk menikmati betapa sejuknya pagi ini. Keenan yang baru saja sampai di kelas langsung menarik lenganku dan mengajakku keluar. Aku hanya mengikutinya saja, dan ternyata dia mengajakku ke pinggir lapangan basket.
  “Sinih tangan kamu.” Ucap Keenan sambil mentatih tanganku untuk menikmati air hujan.
  “Tutup mata kamu. Rasakan setiap tetes air hujan itu, terus kamu bayangin kalau sekarang, kamu lagi di tengah-tengah lapangangan, main air, hujan-hujanan, bercandaan sama orang yang kamu sayang dan bikin kamu nyaman.” Jelas Keenan.
  Aku mengikuti perintahnya, seseorang yang aku pikirkan adalah Keenan. Orang yang sudah membuatku merasakan cinta yang baru. Aku mulai membuka mataku, lalu menatap ke arah Keenan yang sedang menutup matanya.
  “Sempurna! Aku sukaaaa banget sama hujan.” Ucapku di iringi dengan senyum lebar.
  “Apa kamu juga suka pelangi?” tanya Keenan.
  “Engga. Mungkin banyak orang yang lebih suka pelangi, tapi aku engga. Pelangi membuatku menunggu, dan pelangi ngga selalu muncul setelah hujan itu reda.” Jawabku.
  “Tapi kebanyakan orang menganggap hujan sebagai kesedihan, dan pelangi sebagai kebahagiaan yang datang setelah kesedihan itu hilang.” Ucap Keenan.
  “Itu bukan aku, aku lebih menikmati hujan, setiap tetesnya, suara gemerciknya, awan mendungnya, hawa dinginnya, indah banget, sempurna deh.” Jawabku.
  “Sekarang aku tanya, siapa yang kamu pikirin?” tanya Keenan.
  “Kamu. Siapa yang kamu pikirin?” tanyaku.
  “Jelas, itu kamu.” Jawab Keenan.
  “Kenapa aku?” tanyaku.
  “Karena aku sayang kamu.” Jawab Keenan.
  “Kenapa kita ngga jadian? Setelah tau apa yang kita pikirin, apa yang membuat kita nyaman, dan perasaan kita yang sama?” tanyaku lagi.
  “Karena cinta punya waktu, Rain.” Jawab Keenan.
  “Maksud kamu?” tanyaku.
  “Karena cinta punya waktu, selalu punya waktu.” Jawab Keenan.
  “Aku sama sekali ngga paham.” Ucapku.
  “Cinta butuh belajar, saling memahami, kesetiaan, yang terpenting adalah komitmen, seberapa besar, seberapa lama kita bisa pegang komitmen itu, maka dari itu cinta punya waktu.” Jelas Keenan.
  “Aku akan belajar memahami, setia, sayang, dan pegang komitmen itu sampai waktunya tiba.” Jawabku.
  “Jangan buat janji…” ucap Keenan menggantung karena aku menaruh telunjukku di bibirnya.
  “Aku udah ngerti kok.” Ucapku.
  “Bawel!” ucap Keenan seraya mencubit pipiku.
  Aku hanya menjulurkan lidahku lalu berlari kecil meninggalkan Keenan.
  Sepulang sekolah, Keenan mengajakku pergi ke Teras Kota dekat SMA. Dia membelikanku sebuah balon berwarna merah muda dan es krim red velvet kesukaanku.
  “Kenapa balon?” tanyaku.
  “Aku pikir kamu suka balon, jadi aku beliin.” Jawab Keenan polos.
  “Kayak anak kecil tau.” Ucapku.
  “Yaudah aku letusin.” Ucap Keenan.
  “Ngambek! Iya deh aku suka balon kok. Lucu lagi, warna pink..” ucapku.
  “Kayak anak kecil!” ucap Keenan.
  “Kamu mau aku tendang sampai ke Afrika?” tanyaku.
  “Damai, damai.” Ucap Keenan.
  “Rain…Je t’aime, Wo ai ni, Te amo, chan rak khun, saranghae, mahal kita, ik hou van je, I love you.” Ucap Keenan sambil menatapku tajam.
  “Te amo más.” Jawabku.
  Keenan hanya tersenyum sambil terus memandangku, aku pun membalasnya dengan sebuah senyuman.
  “Es krimnya di makan cepetan, habis itu kita pulang.” Ucap Keenan.
  “Kok cepet banget?” tanyaku.
  “Mamah sendirian di rumah.” Jawab Keenan.
  “Oke kalau gitu.” Jawabku.
  Kami pun berpisah di halam rumahku. Hari yang cukup melelahkan, namun ini juga sangat menyenangkan, karena sudah lama aku tidak pergi berdua bersama Keenan. Aku terus tersenyum membayangkan betapa hebatnya hari ini sambil memegang balon merah muda yang Keenan berikan kepadaku. Aku pun sampai tidak bisa tidur, membayangkan bagaimana reaksi Keenan esok hari di sekolah.
  Keesokan harinya, tak seperti yang aku bayangkan, tanpa kusadari kemarin adalah hari terakhir aku bisa menghabiskan waktuku bersama Keenan, sebelum akhirnya dia pergi ke luar Negeri karena ayahnya yang di pindah tugaskan. Aku menangis, bertanya-tanya, dan masih tidak menyangka, mengapa Keenan tidak mengatakan hal ini, mengapa ia pergi tanpa mengucapkan kata perpisahan? Dan mengapa Keenan menggantungkan perasaan yang tidak jelas ini, setelah kemarin dia mengucapkan rasa cinta dengan berbagai macam bahasa sebelum pergi meninggalkanku? Dia membuatku menunggu. Entah kapan kiat akan bertemu lagi, dan entah kapan pada akhirnya cinta itu menemukan waktu.

>>><<< 
  Seperti Mentari…
  Seperti Pelangi…
  Seperti dirimu…
  Yang selalu ku tunggu…
  Lagu itu terus berputar di ponselku, menemaniku di saat aku rindu pada Keenan, sambil mecabuti satu persatu kelopak bunga mawar. Tak terasa, aku menyimpan banyak kelopak bunga mawar yang sebagian telah layu di toples kaca besar. Kelopak bunga yang selama ini menjadi pelampiasan rasa rinduku pada Keenan.
  “Tuhan, sedang apa Keenan disana? Apakah dia juga menikmati malam yang hujan dan gelap ini? tolong sampaikan padanya, bahwa aku sangat merindukannya. Aku hanya ingin dia tahu bahwa aku sangat menyayanginya. Kamu yang selalu ku tunggu Keenan. Seperti yang kamu bilang, bahwa cinta punya waktu, tapi kapan cinta itu menemukan waktunya? Regresa a mi.” ucapku diiringi isak tangis dan memeluk erat bingkai foto Keenan.
  Hujan, mawar, balon merah muda punya cerita dan kenangan tentangmu Keenan. Aku akan tetap menunggu, belajar memahami, setia, dan tetap menyayangimu hingga cinta menemukan waktunya, karena aku percaya, cinta punya waktu.


-SEKIAN-


GLOSARIUM
-          Je t’aime                      : Aku cinta kamu (Bahasa Perancis)
-          Wo ai ni                       : Aku cinta kamu (Bahasa China)
-          Te Amo                       : Aku cinta kamu (Bahasa Spanyol)
-          Chan Rak Khun          : Aku cinta kamu (Bahasa Thailand)
-          Saranghae                    : Aku cinta kamu (Bahasa Korea)
-          Ik Hou van Je              : Aku cinta kamu (Bahasa Belanda)
-          Mahal Kita                  : Aku cinta kamu (Bahasa Filipina)
-          I Love You                 : Aku cinta kamu (Bahasa Inggris)
-          Te amo más                 : Aku cinta kamu lebih (Bahasa Spanyol)
-          Regresa a mi                : Kembali padaku (Bahasa Spanyol)  
 
NAMA            : Mentari Rizki Egayanti (18)

KELAS           : X 2

Comments

Popular posts from this blog

Hunting Rame Rame (Bukan anak hitz)

SMANTIK Tour de Bali 2016 ala 5s part 2

SMANTIK TOUR de BALI 2016 ala 5S Part 1